|
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS.
Al Mu'min, 40:60)
Menurut
Al Qur'an, doa, yang berarti "seruan, menyampaikan ungkapan, permintaan,
permohonan pertolongan," adalah berpalingnya seseorang dengan tulus
ikhlas kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya, Yang Mahakuasa, Maha
Pengasih dan Penyayang, dengan kesadaran bahwa dirinya adalah wujud yang
memiliki kebergantungan. Penyakit adalah salah satu dari contoh tersebut yang
dengannya manusia paling merasakan kebergantungan ini dan lebih mendekatkan
diri kepada Allah. Tambahan lagi, penyakit adalah sebuah ujian, yang
direncanakan menurut Hikmah Allah, yang terjadi dengan Kehendak-Nya, dan
sebagai peringatan bagi manusia akan kefanaan dan ketidaksempurnaan kehidupan
ini, dan juga sebagai sumber pahala di Akhirat atas kesabaran dan ketaatan
karenanya.
Sebaliknya
mereka yang tidak memiliki iman, meyakini bahwa jalan kesembuhan adalah
melalui dokter, obat atau kemampuan teknologi mutakhir dari ilmu pengetahuan
modern. Mereka tidak pernah berhenti untuk merenung bahwa Allah-lah yang
menyebabkan keseluruhan perangkat tubuh mereka untuk bekerja di saat mereka
sedang sehat, atau Dialah yang menciptakan obat yang membantu penyembuhan dan
para dokter ketika mereka sakit. Banyak orang hanya kembali menghadap kepada
Allah di saat mereka sadar bahwa para dokter dan obat-obatan tidak memiliki
kesanggupan. Orang-orang yang berada pada keadaan tersebut memohon
pertolongan hanya kepada Allah, setelah menyadari bahwa hanya Dialah yang
dapat membebaskan mereka dari kesulitan. Allah telah menyatakan pola pikir
ini dalam sebuah ayat:
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam
keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya
itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia
tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah
menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa
yang selalu mereka kerjakan. (QS, Yunus, 10:12)
Padahal
sesungguhnya, sekalipun dalam keadaan sehat, atau tanpa cobaan atau kesulitan
lain, seseorang wajib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas segala
kenikmatan, kesehatan dan seluruh karunia yang telah Dia berikan.
Inilah
satu sisi paling penting dari doa: Di samping berdoa dengan lisan menggunakan
suara, penting pula bagi seseorang melakukan segala upaya untuk berdoa
melalui perilakunya. Berdoa dengan perilaku bermakna melakukan segala sesuatu
yang mungkin untuk mencapai harapan tertentu. Misalnya, di samping berdoa,
seseorang yang sakit sepatutnya juga pergi ke dokter ahli, menggunakan
obat-obatan yang berkhasiat, dan menjalani perawatan rumah sakit jika perlu,
atau perawatan khusus dalam bentuk lain. Sebab, Allah mengaitkan segala
sesuatu yang terjadi di dunia ini pada sebab-sebab tertentu. Segala sesuatu
di dunia dan di alam semesta terjadi mengikuti sebab-sebab ini. Oleh karena
itu, seseorang haruslah melakukan segala hal yang diperlukan dalam kerangka
sebab-sebab ini, sembari berharap hasilnya dari Allah, dengan kerendahan
diri, berserah diri dan bersabar, dengan menyadari bahwa Dialah yang
menentukan hasilnya.
Pengaruh menguntungkan
dari keimanan dan doa bagi orang sakit, dan bagaimana hal ini dapat
mempercepat penyembuhan adalah sesuatu yang telah menarik perhatian dari dan
dianjurkan oleh para dokter. Dengan judul "God and Health: Is
Religion Good Medicine? Why Science Is Starting to Believe" [Tuhan
dan Kesehatan: Apakah Agama Adalah Obat Yang Baik? Mengapa Ilmu Pengetahuan
Mulai Percaya], majalah terkenal Newsweek terbitan tanggal 10 November
2003 mengangkat pengaruh agama dalam penyembuhan penyakit sebagai bahasan utamanya.
Majalah tersebut melaporkan bahwa keimanan kepada Tuhan meningkatkan harapan
pasien dan membantu pemulihan mereka dengan mudah, dan bahwa ilmu pengetahuan
mulai meyakini bahwa pasien dengan keimanan agama akan pulih lebih cepat dan
lebih mudah. Menurut pendataan oleh Newsweek, 72% masyarakat Amerika
mengatakan mereka percaya bahwa berdoa dapat menyembuhkan seseorang dan
berdoa membantu kesembuhan. Penelitian di Inggris dan Amerika Serikat juga
telah menyimpulkan bahwa doa dapat mengurangi gejala-gejala penyakit pada
pasien dan mempercepat proses penyembuhannya.
Menurut
penelitian yang dilakukan di Universitas Michigan, depresi dan stres teramati
pada orang-orang yang taat beragama dengan tingkat rendah. Dan, menurut
penemuan di Universitas Rush di Chicago, tingkat kematian dini di kalangan
orang-orang yang beribadah dan berdoa secara teratur adalah sekitar 25% lebih
rendah dibandingkan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan agama.
Penelitian lain yang dilakukan terhadap 750 orang, yang menjalani pemeriksaan
angiocardiography [jantung dan pembuluh darah], membuktikan secara
ilmiah "kekuatan penyembuhan dari doa." Telah diakui bahwa tingkat
kematian di kalangan pasien penyakit jantung yang berdoa menurun 30% dalam
satu tahun pasca operasi yang mereka jalani.
Sejumlah
contoh doa yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah:
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya
Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan
Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya
dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan
mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi
semua yang menyembah Allah. (QS. Al Anbiyaa', 21:83-84)
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi
dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya
(menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:
"Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau,
sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami
telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan
demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al Anbiyaa',
21:87-88)
Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya:
"Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan
Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami
anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam
(mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami
dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada
Kami. (QS. Al Anbiyaa', 21:89-90)
Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya
sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (QS. Ash Shaaffaat, 37:75)
Sebagaimana
telah disebutkan, doa tidak semestinya hanya dilakukan untuk menghilangkan
penyakit, atau kesulitan-kesulitan duniawi lainnya. Orang beriman yang sejati
haruslah senantiasa berdoa kepada Allah dan menerima apa pun yang datang
dari-Nya. Kenyataan bahwa sejumlah manfaat doa yang diwahyukan di dalam
banyak ayat Al Qur'an kini sedang diakui kebenarannya secara ilmiah, sekali
lagi mengungkapkan keajaiban yang dimiliki Al Qur'an.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah, 2:186)
|
Senin, 06 Agustus 2012
13. DOA MEMPERCEPAT KESEMBUHAN PASIEN
12. SIKAP MEMAAFKAN DAN MANFAATNYA BAGI KESEHATAN
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam
Al Qur’an adalah sikap memaafkan:
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan
yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an,
7:199)
Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan
hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa
Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An
Nuur, 24:22)
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al
Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah
terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan
orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:
... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni
serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS.
At Taghaabun, 64:14)
Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf
adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan
memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."
(Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang
bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam
Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang
lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap
memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai
ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan
seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri
dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan
rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah
tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari
kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu,
orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan
orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan
besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja.
Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut
kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka
berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan
Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik
jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka
berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya
secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa
berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit
punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah
berkurang pada orang-orang ini. Dalam bukunya, Forgive for Good
[Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf
sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut
memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran
seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan,
penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang
dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang.
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:
Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang
atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem
pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat
rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal
tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal
itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk
keadaan.
Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness"
[Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah
Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa
kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif
dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani
mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah
beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan
memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk
memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu,
orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam
kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan
orang lain.
Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa
kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia.
Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu
bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari
kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara
lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala
sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat
akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah
dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber
kearifan yang dikandungnya.
Para peneliti percaya bahwa
pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot
jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu
pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya
serangan jantung. Ketika
marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya
tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan
terkena serangan jantung.
11. HATI DAMAI DENGAN MENGINGAT ALLAH
Menurut penelitian oleh David B Larson dan
timnya dari the American National Health Research Center [Pusat
Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang
taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat
mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak
memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung
60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan
darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini
adalah 7:1 di antara para perokok.
Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam
International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah
penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak
berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih
pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama
berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka
yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih
tinggi daripada mereka yang beragama.
Para pakar psikologi yang sekuler cenderung
merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti
bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik
pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah
kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa.
Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun.
Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama
dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas
Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang
ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa
ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada
kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson
menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan
banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah.
ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan
telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan
kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah,
yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani
adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka.
Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu
mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.
Kedokteran modern sekarang sedang mengarah
menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn:
"Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam
telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah
kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan."
10. WANITA DALAM KEHIDUPAN NABU MUSA 'ALAIHIS SALAM
Kita kembali ke ribuan
tahun ke belakang, membuka lembaran sejarah mereka yang sepanjang zaman jadi
teladan. Kita ingin belajar dari sejarah, bukan hanya belajar sejarah. Kita
ingin mengambil fakta dari sejarah bukan hanya mengumpulkan data. Kita tak
ingin salah melangkah ke depan, dan itulah salah satu fungsi sejarah, belajar
dari kekhilafan lalu agar tak salah melangkah di masa depan, atau belajar dari
kegemilangannya agar lulus sebagai pemenang. Tidak syak lagi, kalau wanita,
selalu dan selamanya memiliki peran penting dalam peradaban setiap bangsa atau
ummat. Tidak berlebihan kiranya jika ada sebagian orang yang mengatakan bahwa
wanita adalah “Tiang Negara”, tidak berlebihan pula jika sebagian yang lain
mengatakan wanita sebagai “Madrasah pertama bagi anak-anaknya”, dan
seterusnya-dan seterusnya berbagai ungkapan dilontarkan tentang wanita.
Sejarah tak luput
mencatat, bagaimana Musa dan para wanita yang berjasa dalam hidupnya. Musa AS
dilahirkan saat kondisi sedang pelik. Rasa takut firaun akan tahtanya
membuatnya bertindak tiran dan sewenang-wenang di muka bumi. Setiap bayi
laki-laki yang lahir ke dunia patut di sembelih, adapun bayi perempuan
dibiarkannya hidup.
Sosok pertama seorang
wanita dalam hidup Musa adalah Ibu nya. Lihatlah bagaimana keadaannya tatkala
Musa lahir ke dunia? Sang Ibu bimbang hatinya, apa yang harus dilakukan,
sedangkan firaun dan bala tentaranya pasti akan segera menjamah dan merampas
setiap anak lelaki dari tangan ibu-ibu mereka.
Saat sang ibu mendekap
erat Musa kecil dalam pangkuannya, dan bimbang semakin menjadi-jadi, maka Allah
sudah merencanakan sesuatu untuk Musa. Tiba-tiba, sang ibu jadi bulat tekadnya
untuk menghanyutkan sang buah hati ke sungai dengan memasukannya ke dalam
wadah, kemudian menitipkannya kepada laju arus sungai.
Sesaat setelah Musa di
biarkan mengambang bersama arus sungai, sang ibu hatinya menjadi kosong, penuh
rasa penyesalan. Kenapa dia percaya kepada suara hati nya yang muncul begitu
saja itu? Bukankah membiarkannya mengambang di sungai jauh lebih bahaya
ketimbang membiarkannya didekap? Boleh jadi ia tenggelam atau dimangsa buaya
sungai yang buas! Hampir saja ibu Musa tak dapat menahan dirinya, hampir saja
dia berteriak dan ingin mengatakan segala apa yang ada di hatinya yang boleh
jadi semua rahasianya ‘kan terbongkar seketika, namun Allah meneguhkan hatinya,
agar ia menjadi seorang mu’minah (yang percaya terhadap janji Allah).
“Ikutilah
jejaknya!”(QS. Al-Qoshos:11) suruh Ibu Musa terhadap anak perempuannya (Saudari
Musa). Ini dia, saudara perempuan Musa, wanita kedua dalam kisah hidup Musa.
Dengan amanah, dia mengikuti jejak musa sampai penyusuran jejaknya itu akhirnya
mengantarkan ia ke istana firaun, dan ia dapati saudara laki-lakinya tengah
berada di pangkuan istri sang penguasa tiran, Firaun. Bagaimana bisa?
Jawabannya hanya satu, sungai telah memainkan perannya dengan baik, sungai
tidak khianat dengan suruhan Allah yang Maha berkuasa. Jika mau, boleh saja
sungai menelan bayi mungil itu, namun ternyata Allah telah menyuruhnya dengan
tugas khusus, yaitu mengantar bayi kecil ke sisi wanita mu’minah lainnya (Istri
Firaun).
Istri Firaun, wanita
ketiga dalam hidup Musa, telah memainkan perannya, Allah menakdirnya ‘tuk
menjadi penyelamat Musa kecil ketika kilatan pedang hampir saja memutus
lehernya. Istri firaun berkata “Jadikanlah ia sebagai buah hatiku dan dirimu!
Jangan lah engkau bunuh, mudah-mudahan anak ini kelak bisa bermanfaat bagi
kita, kita jadikan saja sebagai anak…”. (QS. Al-Qoshos: 9)
“Mereka membuat makar,
Allah pun membuat makar, dan Allahlah yang paling baik makarnya.” (Ali-Imron:
54). Firaun ingin agar kekuasaannya langgeng, dengan membunuh setiap bayi
laki-laki dari masyarakat Bani Israil, sehingga populasi lelaki mereka
berkurang dan dengan demikian kekuasaan akan tetap berada ditangannya. Firaun
punya keinginan, tapi Allah punya kehendak lain. Apa yang ditakutinya berupa
keruntuhan kekuasaan justru tak lama lagi akan terwujud, bayi kecil yang kini
berada di bawah asuhan istrinya inilah yang kelak akan menjadi musuhnya.
Mulailah istri firaun
mencarikan seseorang yang dapat menyusuinya. Tiap kali didatangkan seorang yang
hendak menyusuinya, tiap itu pula Musa kecil dengan isyarat keengganannya
menolak sang penyusu, sehingga kemudian saudari perempuan Musa yang menyaksikan
peristiwa di istana megah firaun itu berkata “Mau kah ku tunjukkan kalian
kepada seseorang yang dapat menyusuinya?”.(Al-Qoshos: 12)
Demikianlah akhirnya Allah
mengembalikan musa ke haribaan ibunya, sehingga hati sang ibu kembali menjadi
tenang. Hari-hari berlalu, Musa tumbuh di istana musuhnya sendiri, firaun,
namun sang durhaka dan durjana firaun tidak menyadarinya kalau bahaya yang
ditakutinya sebenarnya setiap hari selalu mengancam.
Kini Musa telah
dewasa, Allah telah memberikan kepadanya pengetahuan dan hikmah. Allah pun
telah punya rencana lain untuk Musa, hidupnya yang berkelimpahan di istana dan
kenyamanan di dalamnya, sesaat dan sesaat lagi akan berubah total.
Pada suatu saat dalam
sejarah hidupnya, Musa memasuki sebuah kota yang sedang lengang, tak nampak
aktivitas penduduknya, kemudian ia mendapati di kota tersebut, dua orang tengah
berselisih, yang satu dari kaumnya (Bani Israil) yang lainnya adalah anak buah
firaun. Maka orang yang dari kaumnya itu meminta bantuan kepada Musa, seketika
Musa memukul anak buah firaun hingga ia tergeletak tak berdaya bahkan berhenti
detak jantungnya. Musa kaget bukan buatan atas apa yang telah dilakukannya,
padahal tak ada maksud sedikit pun untuk membunuh orang tersebut.
“Ya Allah,
sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah
diriku…”(Al-Qoshos:16) kata Musa bermunajat memohon ampun kepada Allah atas
kesalahan yang telah diperbuatnya.
Beberapa hari setelah
peristiwa itu, Musa dihadapkan kembali pada persoalan yang sama, orang dari
kaumnya yang kemarin berselisih meminta pertolongan kembali kepada musa,
mengesalkan memang, karena selalu saja orang dari Bani Israel itu berbuat ulah
sebagaimana cucu-cucunya saat ini. Musa berkata kepada orang dari kaumnya itu
“Engkau sungguh orang yang nyata-nyata sesat”.(Al-Qoshos: 18)
Maka ketika Musa
hendak memukul orang yang menjadi musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata
“Apakah engkau bermaksud membunuhku sebagaimana kemarin engkau membunuh
seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di
Negeri ini (Mesir), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari
orang-orang yang mengadakan perdamaian”.(Al-Qoshos: 19) Musa menjadi terdiam
ketika mendengar kata-katanya, marahnya terhadap pemuda yang hendak ia pukul
ditahannya, hingga berlalu lah pemuda tersebut dari hadapannya.
Rupanya berita
pembunuhan itu sudah menyebar ke seantero Mesir, Nama Musa dibicarakan dari
mulut ke mulut, dan bahkan ternyata namanya sudah terdengar gaungnya di istana
kerajaan firaun, karena beberapa saat setelah musa hendak memukul orang tadi,
datanglah seorang laki-laki bergegas dari ujung kota seraya berkata “Wahai
Musa! Sesungguhnya para pembesar Negeri sedang berunding tentang engkau untuk
membunuhmu, maka keluarlah dari kota ini, sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang memberi nasihat kepadamu”.(QS. Al-Qoshos: 20)
Keluarlah akhirnya
musa dari kota tersebut (kota Memphis), tanpa bekal, dan tanpa seseorang yang
menunjuki jalan, karena tuntutan tiba-tiba yang membuatnya tidak sempat
mempersiapkan apapun. Langkah kakinya menyisir gurun, menapak jejak, akhirnya
mengantarkan Musa ke sebuah negeri di antara negeri Syam (Irak, Iran,…) dan
Hijaz, yaitu kota Madyan. Kita tidak tahu, seberapa lama musa berjalan, kita
pun tidak tahu seberapa banyak bahaya yang mengancamnya selama perjalanan,
Al-Quran menjelaskan cerita secara singkat, karena tujuan dari Kisah-kisah
Al-Quran itu adalah Mengambil Ibrah atau pelajaran dan nasihat di balik kisah
Nabi Musa ini, bukan sekadar hafalan data-data sejarah.
Mulailah satu fase
kehidupan baru Bagi Musa, kehidupan yang berbeda 180 derajat dari kehidupan
sebelumnya yang penuh dengan kemegahan Istana ayah angkatnya, Firaun. Sekarang,
Musa ada di negeri Orang, Negeri Madyan. Matanya memandang jauh ke depan, dan
ia dapati sekumpulan orang tengah berkerumun ‘tuk memberi minum ternak mereka.
Tiba-tiba saja Musa mengarahkan perhatiannya pada dua orang perempuan yang
berdiri jauh dari kumpulan orang tersebut, sembari menahan hewan ternak
keduanya agar jangan melaju kearah desakan-desakan kerumunan tersebut.
Kemudian Musa
mendekati keduanya sembari berkata “Apakah Maksud Kalian berdua dengan berbuat
begitu?…”(QS. Al-Qoshos: 23), kedua perempuan itu menjawab “Kami tidak bisa
memberi minum ternak-ternak kami sebelum orang-orang itu memulangkan ternak
mereka (setelah selesai dari memberi minumnya), sedangkan ayah kami adalah
seorang yang telah lanjut usianya”. (QS. Al-Qoshos: 23) Seakan-akan jawaban
dari keduanya menunjukkan kalau keberadaan mereka berdua di tengah desakan
adalah perkara yang kurang pantas bagi wanita, oleh karena itu keduanya berdiri
jauh dari kerumunan dan desak-desakan orang, sambil kemudian berkata “Ayah kami
adalah seorang yang telah lanjut usia”, maksudnya, kalaulah tidak karena ayah
kami sudah berumur, maka tentunya kami tidak akan berdiri di sini sekarang.
Maka kemudian Musa
membantu keduanya dalam memberi minum ternak mereka berdua, setelah selesai,
tanpa banyak kata, pulanglah kedua perempuan itu, tak ada obrolan sedikit pun
antara musa dan keduanya, pun begitu pula musa tidak meminta upah dari
keduanya. Mulailah Musa mencari tempat berteduh, setelah mendapatkannya, ia
bernaung di bawah tempat teduh itu, dan tidak sedikit pun meminta-minta
walaupun banyak orang yang lalu-lalang di hadapannya. Musa berdoa “Ya Allah aku
sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku.(QS.
Al-Qoshos: 24)
Beberapa saat
kemudian, tanpa disangka-sangka datanglah kepada Musa salah satu dari kedua
perempuan itu. Sambil berjalan dengan malu-malu dia berkata “Sesungguhnya
ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu
memberi minum ternak kami…”.(QS. Al-Qoshos: 25)
Kebaikan benar-benar
datang kepada Musa tanpa harus menunggu berhari-hari, hitungannya hanya menit
saja, tibalah pertolongan Allah kepadanya. Setelah Musa sampai ke rumah kedua
perempuan itu, bertemulah Musa dengan Ayah keduanya, Sedangkan kedua perempuan
tersebut berada di samping ayahnya. Ia (perempuan tersebut) melihat ada sebuah
kesempatan baginya dan bagi saudarinya untuk istirahat dari lelah dan penatnya
pekerjaan mengembala kambing, oleh karenanya salah seorang dari kedua perempuan
berkata “…Wahai Ayah, jadikanlah ia sebagai pekerja kita, sesungguhnya orang
yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita adalah orang yang
kuat dan dapat di percaya”.(QS. Al-Qoshos: 26) Keduanya telah menyaksikan
sendiri kejujuran orang asing ini (Musa), kemaskulinan (kelaki-lakiannya), dan
kebaikan akhlaqnya dengan tidak meminta upah sedikit pun sesaat setelah Musa
membantu mereka berdua, oleh karenanya jadilah dalam pandangan mereka berdua
Musa sebagai sebaik-baik pemuda.
Apa yang dirasakan
kedua perempuan itu, dirasakan pula oleh ayah keduanya, memang benar, orang
asing ini (Musa) selain butuh tempat berlindung, pun dapat diperbantukan untuk
pekerjaannya menggembala kambing, dan pada saat yang sama pula, orang tua
tersebut memiliki dua anak perempuan yang salah satu dari keduanya sudah dirasa
cukup untuk menikah, dan juga agar keberadaan Musa di rumahnya tidak mengundang
desas desus dan bisik-bisik tetangga, oleh karenanya, menikahkan salah satu
dari keduanya dengan ketentuan bekerja beberapa tahun adalah solusi jitu dan
pas. Berkatalah orang tua tersebut “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan
engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan
bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan
sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, dan aku tidak bermaksud
memberatkan engkau. Insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang yang
baik.(QS. Al-Qoshos: 27)
Musa menerima perjanjian itu, ia berkata “…Itu perjanjian antara aku dan engkau, yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku lagi, dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan”.(Al-Qoshos: 28)
Musa menerima perjanjian itu, ia berkata “…Itu perjanjian antara aku dan engkau, yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku lagi, dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan”.(Al-Qoshos: 28)
Tinggallah Musa di
negeri asing bersama seorang istri yang mendampinginya, Inilah takdir Allah
bagi Nabi Musa AS dalam satu episode sejarah kehidupannya, Musa dan
wanita-wanita berjasa dalam hidupnya, Ibunya, Kakak perempuannya, Istri Firaun,
dan Istrinya yang solehah.
*******
Pelajaran yang bisa
diambil dari satu episode dalam kehidupan Nabi Musa ini:
1. “Boleh jadi Kita
tidak menginginkan sesuatu, padahal sesuatu itu ternyata baik bagi kita”. Ini
adalah gambaran dari fase kehidupan Musa, kalaulah karena tidak karena sebab
Musa memukul anak buah firaun, tidaklah mungkin ia kan meninggalkan Mesir
secara langsung dan tiba-tiba. Sungguh ini adalah takdir Allah agar sempurna
pembinaan Nabi Musa, dan persiapannya di kemudian hari tuk menghadapi
kecongkakan firaun. Allah jauhkan dia dari kemewahan Istana firaun, dan
kemudian menempatkannya di tengah lingkungan gurun yang udaranya belum
tercemari, akhlak-akhlak penduduknya masih terjaga.
2. Andai Musa terus
tinggal di Istana Firaun sampai ia mendapat perintah menghadapinya, maka itu
akan menjadi hal yang cukup berat baginya, karena musa hidup dari suapan
firaun, tinggal di istananya. Maka dengan mudah firaun akan mencelanya, dan
menuduhnya tak tahu diuntung. Kehidupan Mandiri adalah cara tuk mengantisipasi
agar hal tersebut tidak terjadi, walau akhirnya firaun mengejeknya juga dengan
cara itu, padahal musa sudah mandiri dan tidak sepenuhnya hidup dari suapan
firaun, apalagi jika tidak demikian, tentunya ini akan menjadi aib tersendiri
bagi Musa.
3. Ada kemiripan
antara kisah Nabi Musa dan kisah Nabi Yusuf, pertama, Musa di lempar
oleh ibunya ke sungai dengan harapan agar selamat dari cengkraman tangan jahat
Firaun, adapun Yusuf, saudara-saudaranya lah yang melemparnya ke sumur karena
kedengkian mereka, kedua, keduanya sama-sama hidup di lingkungan
istana semasa kecil, namun dalam kisah Yusuf yang paling berperan terhadap
pendidikannya dan pengembangan dirinya adalah raja dari istana yang ia tinggali
sebagaimana dijelaskan di surat Yusuf ayat 21, adapun dalam kisah Musa yang
berperan adalah Istri dari raja Firaun sebagaimana tersebut dalam surat
Al-Qosos ayat 9.
Ketiga, keduanya
tinggal dalam lingkungan keberhalaan. Pada zaman Nabi Yusuf keberhalaan dan
kerusakan moral sudah mencapai puncaknya, pun begitu pula pada zaman Nabi Musa,
namun walaupun demikian, Allah telah menjaga kehidupan keduanya dari
keterlibatan dengan penyembahan berhala dan kerusakan moral yang merajalela.
Keempat, Setiap fase dari kehidupan dua Nabi ini selalu mengantarkan keduanya pada kondisi yang berbeda bahkan perubahan drastis amat sangat terlihat dari sejarah hidup keduanya. Yusuf hidup dengan nyaman di istana raja Mesir, kedekatan Yusuf dengannya layaknya seorang anak dengan ayahnya, semua kenikmatan hidup ia rasakan di dalamnya, pun begitu pula dengan Nabi Musa, dia termasuk anak angkat firaun, dibesarkan di istananya dan sudah barang tentu sempat mencicipi aneka kenikmatan hidup di dalamnya. Namun ternyata, keduanya mesti kehilangan semua kenikmatan hidup itu.
Keempat, Setiap fase dari kehidupan dua Nabi ini selalu mengantarkan keduanya pada kondisi yang berbeda bahkan perubahan drastis amat sangat terlihat dari sejarah hidup keduanya. Yusuf hidup dengan nyaman di istana raja Mesir, kedekatan Yusuf dengannya layaknya seorang anak dengan ayahnya, semua kenikmatan hidup ia rasakan di dalamnya, pun begitu pula dengan Nabi Musa, dia termasuk anak angkat firaun, dibesarkan di istananya dan sudah barang tentu sempat mencicipi aneka kenikmatan hidup di dalamnya. Namun ternyata, keduanya mesti kehilangan semua kenikmatan hidup itu.
Kehidupan mereka
berdua tiba-tiba saja berpindah menuju kesengsaraan, kerasnya hidup, ujian dan
cobaan. Yusuf, dari kehidupannya yang penuh kenikmatan, tiba-tiba saja harus
mendekam di balik jeruji penjara setelah lontaran tuduhan tak pantas ditujukan
padanya oleh seorang perempuan, istri pembesar Mesir, Zulaikha. Adapun Musa,
kehilangan semuanya sesaat setelah tindakannya yang berakibat pada terbunuhnya
anak buah firaun.
Kelima, wanita
memiliki peran dalam kehidupan keduanya, hanya saja dalam kisah Nabi Yusuf,
peran tersebut berkebalikan dengan peran wanita dalam kehidupan Nabi Musa. Atas
takdir Allah perempuan dalam kehidupan Nabi Yusuf menjadi sumber ujian dan
cobaan baginya, adapun dalam kehidupan Nabi Musa, bermula dari Ibu, Saudara
perempuan, Istri Firaun, sampai Istrinya, semuanya adalah Nikmat Allah yang
diberikan kepadanya.
4. Kisah Nabi dengan
dua orang perempuan yang ia temui di negeri Madyan ini memberikan gambaran pada
kita tentang Nilai-nilai Islam dan akhlak-akhlak yang semestinya dipegang teguh
oleh muslimah di manapun dan kapan pun ia berada, beberapa di antaranya adalah:
• Semestinya bagi
seorang wanita, ketika ia hendak meninggalkan rumahnya dan menuju tempat lain,
baik terjun ke medan kerja, atau sekadar bepergian, berdua lebih baik dari pada
sendiri. Kita lihat dalam Kisah tersebut, dua orang perempuan kakak beradik,
keluar menuju medan kerja, walaupun boleh jadi orang tuanya yang sudah lanjut
usia sangat membutuhkan salah satu dari keduanya untuk hanya sekadar
mengambilkan minum, menyuapi makan atau yang lainnya, namun kita lihat
bagaimana keduanya keluar bersama-sama agar dapat saling membantu satu sama
lain, sehingga tidak membutuhkan bantuan dari orang asing, lebih khusus lagi
bahwa karakter dasar pembentukan wanita yang tidak sekuat laki-laki menjadi
sebab akan butuhnya seseorang yang menemani dan membantu dalam beberapa
pekerjaannya.
• Masing-masing dari
kedua perempuan dalam Kisah Musa ini layaknya kamera pengintai bagi yang
lainnya, ketika yang satu bekerja, maka yang lain mengawasinya, agar hal-hal
yang tidak diinginkan dapat dihindari, karena keberadaan seorang wanita di
tengah-tengah kerumunan orang, apalagi jika kerumunan orang tersebut didominasi
oleh kaum Adam, adalah hal yang riskan baginya kalau-kalau terjadi hal-hal
tercela yang tidak pantas dari orang asing yang ditemuinya.
• Kita lihat bagaimana
keduanya tidak mau berdesak-desakan, dan ini dijelaskan oleh kata-kata mereka
berdua “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sebelum orang-orang
itu memulangkan ternak mereka (setelah selesai dari memberi minumnya)….”.
Seperti telah dijelaskan, bahwa desak-desakan bagi seorang wanita adalah hal
yang membuka celah terjadinya sesuatu yang tidak mengenakkan hati, kecuali jika
berdesakan di tengah kerumunan sesama wanita, namun lebih utama dijauhi. Hal
yang membuat saya miris adalah ketika kebanyakan mahasiswi kita di Kairo, ikut
berdesak-desakan di Bus, karena memang di sini transportasi agak sulit, bukan
karena kekurangan unit kendaraan/angkutan, namun karena padatnya populasi
penduduk. Wanita berdiri di dekat pintu masuk bus sambil kakinya yang sebelah
mengambang di udara akan Anda dapati di sini, dan yang berbuat seperti itu
rata-rata mahasiswi Indonesia, oleh karena itu tingkat kriminal pemuda Mesir
terhadap mahasiswi Indonesia cukup masuk catatan, pun begitu pula terhadap ras
Melayu yang lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Singapore.
• Kedua perempuan
dalam kisah Nabi Musa ini tidak keluar dengan bersolek dan berhias yang
berlebihan, tidak pula berjalan tanpa adab dan rasa malu, melainkan seperti
yang digambarkan dalam ayat “Berjalan dengan malu-malu”, seakan-akan rasa malu
adalah jalan yang dilewatinya tuk sedikit mendekat menuju Musa.
5. Dari ayat yang
berisi perjanjian Musa dan Orang tua, ayah kedua perempuan itu, kita dapati
kecerdasan dan kebijakan orang tua tersebut, yakni keputusannya tuk menikahkan
salah seorang anak perempuannya dengan Musa, karena memang dia pun membutuhkan
seseorang tuk menggantikannya mengurus gembalaan, dan agar kedua anak
perempuannya pun dapat istirahat dari lelahnya menggembala. Kalaulah Orang tua
tersebut tidak mengambil keputusan menikahkan salah satu putrinya dengan Musa,
maka beberapa kesulitan yang mungkin menimpanya adalah sebagai berikut:
• Orang asing ada di
rumahnya, sedangkan dia memiliki dua putri, tentunya hal ini akan memancing
desas desus yang mencoreng aib keluarga.
• Karena Musa adalah
orang asing, boleh jadi ia akan meminta upahnya, karena itu memang haknya, dan
ini pun akan membuatnya sulit ‘tuk memenuhi. Tapi karena Musa sudah menjadi
menantunya, rasanya kurang pantas jika masih meminta upah terhadap mertuanya.
• Musa akan terus
menjadi orang asing di rumahnya karena tidak terikat dengan ikatan apapun,
namun ketika sang orang tua menikahkan dengan salah satu putrinya, maka
keberadaannya di rumah itu adalah keberadaan yang sah lagi halal, yaitu sebagai
seorang suami dari salah satu putri orang tua tersebut, kalau tidak demikian,
apa statusnya ketika berkumpul dengan dua orang perempuan yang asing baginya???
6. Tidak seorang Nabi
pun melainkan ia pernah menggembala Kambing, Nabi Muhammad, Musa, Isa, dan lain
sebagainya. Terdapat beberapa akhlaq yang didapatkan dari hasil menggembala
kambing ini, di antaranya:
• Sabar:
Pekerjaan penggembala adalah pekerjaan dari matahari terbit hingga terbenam,
karena kelambanan hewan ternak dalam mengunyah makanannya, maka sabar adalah
sebuah tuntutan akhlaq yang mau tidak mau mesti dipenuhi oleh penggembala.
• Tawadhu
(Rendah Hati): Ciri khas penggembala hewan ternak (kambing, domba, dll) adalah
pelayanannya terhadap hewan tersebut, mulai dari mengurusi kelahirannya,
penjagaannya yang boleh jadi menuntutnya ‘tuk tidur di dekat hewan-hewan
tersebut, dan bahkan sesekali terkena kencingnya. Ketika pekerjaan ini terus
berlanjut dan berulang-ulang, hal itu akan semakin menjauhkannya dari besar
kepala atau sombong.
• Keberanian
(Syaja’ah): Ciri khas lainnya dari pekerjaan menggembala hewan ternak ini
adalah bahaya yang kerap kali mengancam dari binatang buas sebangsa serigala
yang setiap waktu dapat memangsa hewan ternaknya. Maka seorang penggembala
harus memiliki keberanian lebih ‘tuk menghadang hewan buas ini.
• Kasih sayang
dan Belas kasih: Tuntutan pekerjaan penggembala kambing adalah, mengobati
hewan ternaknya ketika sakit, atau terluka karena gigitan hewan buas. Semua ini
membutuhkan kasih sayang dan belas kasih terhadap hewan, memperlakukannya
sebagaimana perlakuannya terhadap manusia. Siapa saja yang mengasihi hewan dan
berbuat lembut padanya, sudah barang tentu akan memperlakukan manusia dengan
sikap yang lebih lembut dan penuh kasih sayang.
• Cinta
pekerjaan hasil keringat sendiri: Diriwayatkan Bukhari dari Miqdad R.A.
dari Rasulullah saw, Beliau berkata, “Tidak ada makanan yang paling baik bagi
seseorang selain makanan yang ia dapatkan dari hasil kerja tangannya sendiri,
dan sesungguhnya Nabi Daud A.S. makan dari hasil kerja tangannya sendiri” (HR.
Muslim). Tidak diragukan lagi bahwa dengan bersandar pada usaha halal ‘kan
membuat seseorang meraih kebebasan sempurna dan berkuasa untuk terang-terangan
dalam melantangkan kebenaran.
Wallohu ‘alam bis
shawab
dakwatuna.com
Kamis, 02 Agustus 2012
9. MANFAAT PUASA DAN KURMA
Kurma
Manfaat Puasa
Dari aspek
gizi, puasa setidaknya akan mengurangi asupan zat gizi, terutama energi,
sekitar 20-30 persen. Namun, dari aspek kesehatan, puasa ternyata memberi
manfaat kesehatan terhadap tubuh pelakunya. Bahkan, di negara-negara maju,
puasa dijadikan sebagai salah satu upaya terapi (fasting therapy) untuk
penyembuhan beberapa penyakit degeneratif.
Meskipun penelitian terhadap dampak puasa bagi kesehatan belum banyak dilakukan, beberapa hasil riset menunjukkan manfaat kesehatan puasa, antara lain dapat mengurangi risiko stroke. Puasa juga dapat memperbaiki profil kolesterol darah, yaitu menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL kolesterol).
Kadar kolesterol darah yang tinggi dalam jangka panjang akan menyumbat saluran pembuluh darah dalam bentuk aterosklerosis (pengapuran atau pengerasan pembuluh darah). Aterosklerosis merupakan cikal-bakal timbulnya penyakit kardiovaskuler (PKV), yaitu suatu penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah. Bila penyumbatan terjadi di otak akan menyebabkan stroke dan bila terjadi di daerah jantung menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK).
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa puasa dapat meningkatkan kolesterol baik (HDL) dan menurunkan lemak kolesterol jahat (LDL). Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan frekuensi makan dari tiga kali menjadi dua kali sehari, sehingga asupan lemak akan menurun.
Pemicu PKV
Kolesterol disintesis di dalam organ hati (sekitar 1.500 mg/hari) dan sisanya diserap dari bahan makanan sehari-hari. Sebanyak 75-80 persen kolesterol dalam tubuh manusia dimetabolisasi untuk pembentukan asam kolat, yang penting untuk pencernaan dan penyerapan lemak.
Bahan makanan hewani, seperti daging berlemak, jeroan, otak, telur (terutama bagian kuningnya), kerang, dan produk olahan susu (krim, susu penuh, keju, mentega,) mengandung kolesterol dalam jumlah tinggi per 100 gramnya, sedangkan kandungan kolesterol yang terdapat pada ikan relatif rendah.
Kolesterol diangkut di dalam aliran darah dalam bentuk molekul besar gabungan lemak dan protein yang disebut lipoprotein. Ada beberapa jenis lipoprotein, tetapi yang paling populer adalah low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL).
LDL dan HDL bekerja berlawanan di dalam tubuh. Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat meningkatkan risiko menumpuknya deposit lemak di dalam pembuluh darah, sehingga menimbulkan penyumbatan, yang pada gilirannya meningkatkan risiko serangan jantung. Itulah sebabnya kolesterol LDL disebut sebagai kolesterol jahat (bad cholesterol). Sebaliknya, meningkatnya level kolesterol HDL memiliki efek protektif terhadap penyakit jantung. Karena alasan tersebut, kolesterol HDL disebut sebagai kolesterol baik (good cholesterol).
Di Amerika Serikat, sekitar 1 dari 500 penduduk usia di bawah 18 tahun memiliki kolesterol tinggi, yang disebut sebagai familial hyperlipidemia. Kadar kolesterol tersebut dapat meningkat menjadi 300 mg/100 ml darah atau lebih.
Hal inilah yang menyebabkan mereka mudah terkena serangan jantung atau stroke pada usia 20-an tahun. Sekitar 10 persen anak-anak di AS memiliki kadar kolesterol total melebihi 190 mg/100 ml darah, suatu angka yang tergolong tinggi untuk anak-anak.
Manfaat Kurma Sepanjang Tahun
Dalam menu buka dan sahur, jangan lupa makan kurma. Sebab, selain menyuplai energi, kurma juga kaya akan zat gizi seperti kalium, magnesium, niasin, dan serat pangan (dietary fiber) yang berguna dalam menyehatkan jantung dan pembuluh darah.
Mineral kalium berperan membuat jantung dapat berdenyut teratur, mengaktifkan kontraksi otot, mengendalikan keseimbangan air dalam jaringan dan sel-sel, serta membantu mengatur tekanan darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang kaya kalium (minimal konsumsi kalium 400 mg per hari) dapat mengurangi risiko stroke.
Menurut penelitian, makanan yang sehat untuk jantung dan pembuluh darah adalah yang mengandung rasio kalium(K) dan natrium (Na) minimal 5 berbanding 1. Dalam 100 gram kurma terkandung sekitar 666 mg kalium dan kandungan natriumnya hanya 1 mg, sehingga rasionya 666:1.
Mineral magnesium membantu fungsi saraf dan otot, termasuk pengaturan irama jantung agar tetap normal. Dalam 100 gram kurma terdapat sekitar 34 mg magnesium. Zat gizi niasin (2,2 mg/100 gram kurma) berfungsi membantu pelepasan energi dari makanan dan menjaga fungsi kulit, saraf, dan sistem pencernaan agar tetap normal.
Niasin diduga kuat berperan mencegah dan melawan penyakit jantung. Serat pangan (2,2 gram/100 gram kurma) dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan menghambat penyerapan lemak atau kolesterol dalam usus besar, sehingga kadar kolesterol dalam darah tidak meningkat.
Serat pangan memiliki sifat-sifat khusus yang dapat menimbulkan efek fisiologi dan berpengaruh terhadap metabolisme dalam tubuh. Sifat-sifat yang dimaksud adalah kelarutannya di dalam air, kemampuan mengikat air (water holding capacity), dan viskositas (kemampuan menyerap materi organik maupun non-organik), serta derajat fermentasinya oleh mikroflora usus.
Serat pangan umumnya memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan waktu tinggal (transit time) makanan di dalam usus sehingga memperlama perasaan kenyang, dan mengurangi absorpsi nutrisi. Sifat larut air ini berhubungan juga dengan tingginya kemampuan mengikat air dan viskositas serat.
Karena memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, serat larut air (soluble dietary fiber) mampu membentuk massa yang viskos di dalam lambung. Massa yang viskos ini menyerap enzim pencernaan dan atau mengurangi kontak antara makanan dengan enzim-enzim tersebut. Massa yang viskos ini juga dideteksi oleh lambung sebagai makanan yang belum tercerna dan karenanya lambat dikeluarkan dari lambung.
Hal yang sama juga terjadi di dalam usus kecil, yakni massa serat yang besar ini lambat dikeluarkan dari usus kecil. Namun, lamanya transit time tidak meningkatkan absorpsi zat gizi oleh sel-sel usus, sebaliknya justru absorpsinya menurun. Hal itu terjadi karena massa tersebut memenuhi sebagian besar volume usus kecil, sehingga mengurangi luas permukaan kontak antara zat gizi dengan dinding usus dan menyebabkan rendahnya tingkat difusi zat makanan. Mengingat besarnya gizi kurma, sebaiknya konsumsi kurma setiap saat sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.
Tidak salah lagi, kurma sudah pasti jadi makanan favorit khas Ramadhan. Sebagai makanan pembuka, kurma memang berada di urutan paling atas yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Tapi kita mungkin belum begitu mengetahui ada apa di balik buah kurma itu sebenarnya. Manfaat apa saja yang ada dalam buah kurma sehingga Rasul yang menganjurkan kurma sebagai salah satu menu buka puasa kita?
Meskipun penelitian terhadap dampak puasa bagi kesehatan belum banyak dilakukan, beberapa hasil riset menunjukkan manfaat kesehatan puasa, antara lain dapat mengurangi risiko stroke. Puasa juga dapat memperbaiki profil kolesterol darah, yaitu menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL kolesterol).
Kadar kolesterol darah yang tinggi dalam jangka panjang akan menyumbat saluran pembuluh darah dalam bentuk aterosklerosis (pengapuran atau pengerasan pembuluh darah). Aterosklerosis merupakan cikal-bakal timbulnya penyakit kardiovaskuler (PKV), yaitu suatu penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah. Bila penyumbatan terjadi di otak akan menyebabkan stroke dan bila terjadi di daerah jantung menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK).
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa puasa dapat meningkatkan kolesterol baik (HDL) dan menurunkan lemak kolesterol jahat (LDL). Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan frekuensi makan dari tiga kali menjadi dua kali sehari, sehingga asupan lemak akan menurun.
Pemicu PKV
Kolesterol disintesis di dalam organ hati (sekitar 1.500 mg/hari) dan sisanya diserap dari bahan makanan sehari-hari. Sebanyak 75-80 persen kolesterol dalam tubuh manusia dimetabolisasi untuk pembentukan asam kolat, yang penting untuk pencernaan dan penyerapan lemak.
Bahan makanan hewani, seperti daging berlemak, jeroan, otak, telur (terutama bagian kuningnya), kerang, dan produk olahan susu (krim, susu penuh, keju, mentega,) mengandung kolesterol dalam jumlah tinggi per 100 gramnya, sedangkan kandungan kolesterol yang terdapat pada ikan relatif rendah.
Kolesterol diangkut di dalam aliran darah dalam bentuk molekul besar gabungan lemak dan protein yang disebut lipoprotein. Ada beberapa jenis lipoprotein, tetapi yang paling populer adalah low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL).
LDL dan HDL bekerja berlawanan di dalam tubuh. Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat meningkatkan risiko menumpuknya deposit lemak di dalam pembuluh darah, sehingga menimbulkan penyumbatan, yang pada gilirannya meningkatkan risiko serangan jantung. Itulah sebabnya kolesterol LDL disebut sebagai kolesterol jahat (bad cholesterol). Sebaliknya, meningkatnya level kolesterol HDL memiliki efek protektif terhadap penyakit jantung. Karena alasan tersebut, kolesterol HDL disebut sebagai kolesterol baik (good cholesterol).
Di Amerika Serikat, sekitar 1 dari 500 penduduk usia di bawah 18 tahun memiliki kolesterol tinggi, yang disebut sebagai familial hyperlipidemia. Kadar kolesterol tersebut dapat meningkat menjadi 300 mg/100 ml darah atau lebih.
Hal inilah yang menyebabkan mereka mudah terkena serangan jantung atau stroke pada usia 20-an tahun. Sekitar 10 persen anak-anak di AS memiliki kadar kolesterol total melebihi 190 mg/100 ml darah, suatu angka yang tergolong tinggi untuk anak-anak.
Manfaat Kurma Sepanjang Tahun
Dalam menu buka dan sahur, jangan lupa makan kurma. Sebab, selain menyuplai energi, kurma juga kaya akan zat gizi seperti kalium, magnesium, niasin, dan serat pangan (dietary fiber) yang berguna dalam menyehatkan jantung dan pembuluh darah.
Mineral kalium berperan membuat jantung dapat berdenyut teratur, mengaktifkan kontraksi otot, mengendalikan keseimbangan air dalam jaringan dan sel-sel, serta membantu mengatur tekanan darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang kaya kalium (minimal konsumsi kalium 400 mg per hari) dapat mengurangi risiko stroke.
Menurut penelitian, makanan yang sehat untuk jantung dan pembuluh darah adalah yang mengandung rasio kalium(K) dan natrium (Na) minimal 5 berbanding 1. Dalam 100 gram kurma terkandung sekitar 666 mg kalium dan kandungan natriumnya hanya 1 mg, sehingga rasionya 666:1.
Mineral magnesium membantu fungsi saraf dan otot, termasuk pengaturan irama jantung agar tetap normal. Dalam 100 gram kurma terdapat sekitar 34 mg magnesium. Zat gizi niasin (2,2 mg/100 gram kurma) berfungsi membantu pelepasan energi dari makanan dan menjaga fungsi kulit, saraf, dan sistem pencernaan agar tetap normal.
Niasin diduga kuat berperan mencegah dan melawan penyakit jantung. Serat pangan (2,2 gram/100 gram kurma) dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan menghambat penyerapan lemak atau kolesterol dalam usus besar, sehingga kadar kolesterol dalam darah tidak meningkat.
Serat pangan memiliki sifat-sifat khusus yang dapat menimbulkan efek fisiologi dan berpengaruh terhadap metabolisme dalam tubuh. Sifat-sifat yang dimaksud adalah kelarutannya di dalam air, kemampuan mengikat air (water holding capacity), dan viskositas (kemampuan menyerap materi organik maupun non-organik), serta derajat fermentasinya oleh mikroflora usus.
Serat pangan umumnya memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan waktu tinggal (transit time) makanan di dalam usus sehingga memperlama perasaan kenyang, dan mengurangi absorpsi nutrisi. Sifat larut air ini berhubungan juga dengan tingginya kemampuan mengikat air dan viskositas serat.
Karena memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, serat larut air (soluble dietary fiber) mampu membentuk massa yang viskos di dalam lambung. Massa yang viskos ini menyerap enzim pencernaan dan atau mengurangi kontak antara makanan dengan enzim-enzim tersebut. Massa yang viskos ini juga dideteksi oleh lambung sebagai makanan yang belum tercerna dan karenanya lambat dikeluarkan dari lambung.
Hal yang sama juga terjadi di dalam usus kecil, yakni massa serat yang besar ini lambat dikeluarkan dari usus kecil. Namun, lamanya transit time tidak meningkatkan absorpsi zat gizi oleh sel-sel usus, sebaliknya justru absorpsinya menurun. Hal itu terjadi karena massa tersebut memenuhi sebagian besar volume usus kecil, sehingga mengurangi luas permukaan kontak antara zat gizi dengan dinding usus dan menyebabkan rendahnya tingkat difusi zat makanan. Mengingat besarnya gizi kurma, sebaiknya konsumsi kurma setiap saat sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.
Tidak salah lagi, kurma sudah pasti jadi makanan favorit khas Ramadhan. Sebagai makanan pembuka, kurma memang berada di urutan paling atas yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Tapi kita mungkin belum begitu mengetahui ada apa di balik buah kurma itu sebenarnya. Manfaat apa saja yang ada dalam buah kurma sehingga Rasul yang menganjurkan kurma sebagai salah satu menu buka puasa kita?
Kurma identik
sebagai makanan manis untuk berbuka puasa. Tak hanya manis rasanya, tapi
memiliki gizi yang baik dibanding manisan buah kering lainnya.
Kebiasaan mengonsumsi makanan manis saat berbuka puasa juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan para nabi. Bahkan kebiasan itu telah menjadi sunnah rasul.
Seperti dikutip dari laman Glamour.com, rasa manis buah kurma tidak seperti buah kering lainnya. Rasa manis dan masyirnya yang mudah meleleh di lidah memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, terutama saat dikonsumsi untuk berbuka puasa.
Mengapa? Sifatnya yang mudah meleleh membuat kurma mudah dicerna. Hal ini tepat dikonsumsi saat buka puasa karena organ pencernaan, khususnya lambung membutuhkan makanan lembut setelah sehari tak tersentuh makanan.
Tak hanya itu, kurma juga mengandung gula dan air sehingga membuatnya semakin mudah dicerna dan sampai ke darah. Kurma juga mengandung kalium yang bermanfaat mengendalikan tekanan darah dan membantu kerja otot.
Kurma memang memiliki kandungan kalori lebih tinggi dibanding buah kering lainnya. Namun, kandungan kaliumnya mampu menekan natrium atau garam berlebih penyebab hipertensi. Itulah mengapa pengidap hipertensi juga sangat disarankan mengonsumsi kurma. Cukup konsumsi 5 buah kurma sehari demi mencukupi kebutuhan kalium harian.
Para peneliti di University of Scranton menambahkan, kurma juga memiliki konsentrasi polyphenol tertinggi dibanding buah-buahan kering lainnya. Sebagai antioksidan, polyphenol berperan bagi kekebalan tubuh terhadap infeksi dan serangan penyakit.
Sejarah kurma
Kebiasaan mengonsumsi makanan manis saat berbuka puasa juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan para nabi. Bahkan kebiasan itu telah menjadi sunnah rasul.
Seperti dikutip dari laman Glamour.com, rasa manis buah kurma tidak seperti buah kering lainnya. Rasa manis dan masyirnya yang mudah meleleh di lidah memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, terutama saat dikonsumsi untuk berbuka puasa.
Mengapa? Sifatnya yang mudah meleleh membuat kurma mudah dicerna. Hal ini tepat dikonsumsi saat buka puasa karena organ pencernaan, khususnya lambung membutuhkan makanan lembut setelah sehari tak tersentuh makanan.
Tak hanya itu, kurma juga mengandung gula dan air sehingga membuatnya semakin mudah dicerna dan sampai ke darah. Kurma juga mengandung kalium yang bermanfaat mengendalikan tekanan darah dan membantu kerja otot.
Kurma memang memiliki kandungan kalori lebih tinggi dibanding buah kering lainnya. Namun, kandungan kaliumnya mampu menekan natrium atau garam berlebih penyebab hipertensi. Itulah mengapa pengidap hipertensi juga sangat disarankan mengonsumsi kurma. Cukup konsumsi 5 buah kurma sehari demi mencukupi kebutuhan kalium harian.
Para peneliti di University of Scranton menambahkan, kurma juga memiliki konsentrasi polyphenol tertinggi dibanding buah-buahan kering lainnya. Sebagai antioksidan, polyphenol berperan bagi kekebalan tubuh terhadap infeksi dan serangan penyakit.
Sejarah kurma
Kurma berasal dari
jazirah Arab (Timur Tengah), dan nama latinnya adalah Phoenix dactilyfera.
Dinamakan begitu konon karena memang ada hubungannya dengan burung Phoenix yang
bisa bereinkarnasi setiap kali ingin mati-Ini kepercayaan orang Mesir dan
Yunani kuno.
Beberapa tahun ini,
beberapa peneliti Israel mulai melirik untuk membudidayakan pohon kurma
(seperti dilansir LiveScience.com). Israel menanam biji kurma yang usianya
sampai 2000 tahun. Sampai sekarang, nih pohon baru setinggi 30 cm. Rencananya
sih mereka bakal meneliti DNA pohon itu biar tahu bisa tidak pohon zaman purba
memberikan manfaat buat kehidupan modern.
Manfaat kurma
Banyak manfaat kurma
yang baru terkuak di zaman ini, khususnya buat kesehatan. Dari Salman ibn
'Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Jika salah seorang di
antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu
berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci."
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Kenapa mesti kurma?
Jika kita berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) butuh
sesuatu yang lembut biar bisa bekerja lagi dengan baik. Jadi makanannya harus
yang mudah dicerna dan juga mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak
ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang
disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna
dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu
atawa dua zat gula (kalau tidak glukosa, ya sukrosa).
Nah, untuk hal ini
kurma adalah makanan yang paling baik. Kurma mengandung zat gula yang tinggi
yaitu antara 75-87% dan glukosanya sebanyak 55%, fructose (fraktosa) 45% lebih
tinggi dari jumlah protein, minyak dan beberapa vitamin (seperti vitamin A, B2,
B12), dan sejumlah zat penting laen kayak kalsium, phosphor, potassium, sulfur,
sodium, magnesium, cobalt, seng (zinc), florin, nuhas (tembaga), salyolosa, dan
sebagainya. Fraktosa bakal diubah jadi glukosa dengan cepat dan langsung
diserap oleh organ pencernaan, lantas dikirim ke seluruh tubuh, khususnya ke
organ-organ inti seperti otak, syaraf, sel darah merah, dan sel pembersih
tulang.
Seperti yang kita
ketahui, di ujung puasa kita setiap harinya, glukosa dan insulin dalam darah
yang datang ke katup hati akan bergetar. Artinya proses buka puasa kita bakal
meminimalisir pemakaian glukosa yang diambil dari organ hati dan sel-sel ujung
(seperti otot-otot en sel syaraf) jadi sesuatu yang bisa menghilangkan setiap
zat yang terkandung dalam gelokogen hati. Saat-saat seperti ini, organ-organ
sangat bergantung untuk mendapatkan energi dari CO2 (karbondioksida) kimiawi
dan oksida glukosa yang terbentuk dalam hati dari asam amino dan gleserol.
Jadi, melentur dan
memanjangnya organ penyerap makanan jadi sangat berarti. Maksudnya, penyerapan
glukosa yang cepat di dalam katup pembuluh darah vena di hati akan masuk ke dalam
organ hati untuk pertama kalinya, kemudian masuk ke sel otak, organ pencernaan,
otot-otot, dan seluruh jaringan tubuh yang laen. Makanya, zat gula itu makanan
terbaik buat tubuh karena bisa menghentikan oksidasi karbon kimiawi, memangkas
zat-zat berbahaya dalam tubuh, dan bisa meminimalisir lemahnya serta gemetarnya
organ pencernaan. Cukup rumit ya?
Dr. Hissam Syamsi
Basya dalam tulisannya menjelaskan berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma
yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5%
serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi
dengan kurma mengkel (atau Ruthab) yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula,
1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh. Dr. Ahmad Abdul
Ra'ouf en Dr. Ali Ahmad Syahhat pernah melakukan penelitian kimiawi dan
fisiologi terhadap kurma, hasilnya? Menakjubkan! Coba lihat:
Jika kita buka puasa
dengan kurma ruthab atawa tamar, persentase kandungan zat gula kita akan naik,
artinya bisa membantu mengilangkan penyakit anemia (kurang darah). Oya, ruthab
itu artinya kurma yang mengkel, yang masih segar, dan juga matang di pohon.
Nah, kalo tamar itu kurma matang kering yang banyak terdapat di Indonesia
(misalnya yang banyak dijual di Pasar Tanah Abang, Jakarta).
Waktu lambung kosong
karena tidak makan seharian, pas buka, lambung, akan lebih gampang mencerna dan
menyerap makanan kecil yang mengandung gula, malah lebih cepat dan maksimal
lagi.
Kandungan zat gula
dalam ruthab dan tamar (tentunya dalam bentuk kimia sederhana) menjadikan
proses pencernaan di lambung jadi sangat mudah, soalnya 2/3 zat gula yang ada
dalam tamar dan ruthab bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu
yang singkat.
Selain itu, kita juga
tidak perlu minum banyak-banyak lagi sewaktu buka jika kita makan ruthab atau
tamar, karena sudah mengandung air 65-70%?! Tetapi sangat tidak dilarang untuk
minum pun.
Subhanallah. Tidak heran jika Rasulullah menganjurkan kurma sebagai salah satu makanan pembuka puasa kita yang utama.
Subhanallah. Tidak heran jika Rasulullah menganjurkan kurma sebagai salah satu makanan pembuka puasa kita yang utama.
Kurma,
merupakan salah satu makanan khas saat bulan Ramadhan tiba. Setiap kali
menjelang berbuka puasa, buah manis berwarna cokelat terang hingga gelap ini
sering menjadi menu perdana berbuka.
Dikutip dari Arab News, pakar kesehatan Paul Gross dalam bukunya 'Buah-buahan Super' menyebutkan ada beberapa faktor yang membuat jenis buah tertentu dikategorikan sebagai buah super. Yakni nutrisi, kandungan fitokimia, warna serta berbagai uji klinis mengenai manfaat buah.
Kurma atau dalam bahasa ilmiahnya dactylifera phoenix merupakan buah asli dari Semenanjung Arab, Timur Tengah dan Afrika Utara. Warna kurma beragam, dari coklat terang hingga mendekati warna hitam. Bentuknya pun berbeda-beda, dari persegi panjang, bulat kecil hingga berukuran besar dan panjang. Kebanyakan buah potensial ekspor itu berupa kurma kering.
Kurma kaya akan gizi, fitokimia, air dan gula alamiah untuk mempertahankan kesehatan suku Badui saat di padang pasir. Kandungan fruktosa dan glukosa dalam kurma adalah sumber energi sekaligus kaya asam amino.
Keuntungan lain kurma, buah ini rendah lemak namun kaya serat dan prebiotik dan pitosterol, yang membantu mengendalikan kadar kolesterol. Kurma kaya akan selenium, kalium, kalsium, magnesium, mangan, dan besi yang meningkatkan kekebalan serta melindungi jantung, membangun massa tulang, dan meningkatkan sel darah merah.
Vitamin B dan C di dalamnya juga penting bagi kesehatan dan kekebalan tubuh. Asam lemak omega dalam kurma terbukti menyehatkan jantung, kulit, dan otak yang mirip dengan minyak zaitun.
Kurma juga berfungsi sebagai buah detoksifikasi dan mengurangi radikal bebas dalam tubuh dengan kandungan karotenoid, polifenol, anthocyanin, proanthocyanidins oligomer, tanin, luteolin, quercetin, dan apigenin.
Dari studi para ilmuwan Abu Dhabi, kurma terbukti mampu menekan bakteri menembus membran sel dan mencegah infeksi serta lebih tahan disimpan dalam jangka waktu lama.
Di Arab, sejak dahulu, kurma telah dikenal sebagai pengobatan tradisional untuk banyak kondisi, mulai dari gangguan pencernaan dan pernafasan dan membangun tulang untuk kehamilan, kelahiran,membantu ibu menyusui, meningkatkan sperma, meningkatkan dorongan seksual, dan kesuburan hingga energi selama melahirkan, dan mencegah pendarahan.
Jadi, sungguh cocok jika Anda memilih kurma sebagai menu berbuka untuk memulihkan energi setelah seharian berpuasa.
Dikutip dari Arab News, pakar kesehatan Paul Gross dalam bukunya 'Buah-buahan Super' menyebutkan ada beberapa faktor yang membuat jenis buah tertentu dikategorikan sebagai buah super. Yakni nutrisi, kandungan fitokimia, warna serta berbagai uji klinis mengenai manfaat buah.
Kurma atau dalam bahasa ilmiahnya dactylifera phoenix merupakan buah asli dari Semenanjung Arab, Timur Tengah dan Afrika Utara. Warna kurma beragam, dari coklat terang hingga mendekati warna hitam. Bentuknya pun berbeda-beda, dari persegi panjang, bulat kecil hingga berukuran besar dan panjang. Kebanyakan buah potensial ekspor itu berupa kurma kering.
Kurma kaya akan gizi, fitokimia, air dan gula alamiah untuk mempertahankan kesehatan suku Badui saat di padang pasir. Kandungan fruktosa dan glukosa dalam kurma adalah sumber energi sekaligus kaya asam amino.
Keuntungan lain kurma, buah ini rendah lemak namun kaya serat dan prebiotik dan pitosterol, yang membantu mengendalikan kadar kolesterol. Kurma kaya akan selenium, kalium, kalsium, magnesium, mangan, dan besi yang meningkatkan kekebalan serta melindungi jantung, membangun massa tulang, dan meningkatkan sel darah merah.
Vitamin B dan C di dalamnya juga penting bagi kesehatan dan kekebalan tubuh. Asam lemak omega dalam kurma terbukti menyehatkan jantung, kulit, dan otak yang mirip dengan minyak zaitun.
Kurma juga berfungsi sebagai buah detoksifikasi dan mengurangi radikal bebas dalam tubuh dengan kandungan karotenoid, polifenol, anthocyanin, proanthocyanidins oligomer, tanin, luteolin, quercetin, dan apigenin.
Dari studi para ilmuwan Abu Dhabi, kurma terbukti mampu menekan bakteri menembus membran sel dan mencegah infeksi serta lebih tahan disimpan dalam jangka waktu lama.
Di Arab, sejak dahulu, kurma telah dikenal sebagai pengobatan tradisional untuk banyak kondisi, mulai dari gangguan pencernaan dan pernafasan dan membangun tulang untuk kehamilan, kelahiran,membantu ibu menyusui, meningkatkan sperma, meningkatkan dorongan seksual, dan kesuburan hingga energi selama melahirkan, dan mencegah pendarahan.
Jadi, sungguh cocok jika Anda memilih kurma sebagai menu berbuka untuk memulihkan energi setelah seharian berpuasa.
8. MAJAPAHIT, GAJAHMADA DAN ISLAM
QUESTION : Kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah
Indonesia karena kehebatan Patih Gajahmada yang terkenal dengan Sumpah
Palapa-nya.
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU). —
Penjajah berkepentingan untuk mengubur Islam sebagai akar budaya nasional dan menggantinya dengan Hindu (atau selain Islam). Sehingga dilakukan berbagai usaha seperti penyimpangan sejarah dan mengangkat budaya dan tradisi hinduisme sebagai akar budaya nasional, misalnya membongkar kembali borobudur dan prambanan yg sudah hancur dan terkubur dll.
Kepentingan kolonialisme sebagaimana kita mafhum adalah penyebaran ajaran Kiristen (Gospel) serta motivasi balas dendam atas kekalahan Kristen dalam perang Sabil (salib). Sehingga apapun yang berbau Islam dimusnahkan.
Demikian pula, Majapahit dan hinduisme diangkat terus serta dipaksakan dalam penulisan sejarah sebagai cikal bakal dan nenek moyang bangsa. Padahal tidak demikian.
Oleh karena itu, cobalah tanyakan kepada anak2 kita sekarang, apakah meraka mengenal Raden Fatah, Raja Muslim pertama di Tanah Jawa. Raden Patah adalah putra Raja Majapahit, sekaligus santri dari Sunan Ampel. Tanyakan kepada para Siswa di Sekolah2 Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi Sultan Agung yang mengirimkan tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta untuk mengusir penjajah Portugis?
Tapi, kita dan anak2 kita dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa kerajaan Hindu itulah yang berhasil yang berhasil menyatukan Nusantara. Sehingga opini yang disampaikan kepada anak2 kita tampaknya: "Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah berhasil dibangun oleh Majapahit!"
Sebab, setelah itu - sebagaimana digambarkan dalam buku pelajaran sejarah - muncul kerajaan2 Islam yg tdk pernah berhasil menjelma menjadi kerajaan nasional, sebagaimana Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yg tdk kondusif sebagai "pemersatu Indonesia". Dengan kata lain, Indonesia hanya bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah ateisme, animisme, atau sekularisme. Pada akhirnya sampai saat ini msh byk yg phobi kepada syariat Islam.
Padahal, coba diperiksa dan pertanyakan; kapan Majapahit benar2 berhasil menyatukan Nusantara, wilayahnya sampai mana, dengan cara apa Majapahit menyautkan Nusantara? katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil mewujudkan sumpahnya?
Prof. C.C. Berg, termasuk yg mengkritik upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran majapahit. (Maret 1952)
Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam kitab Darmogandul (kitab yang isinya penuh penghinaan terhadap Islam, Nabi Muhammad dan Al-Qur'an) yang juga meratapi keruntuhan Majpahit dan mencerca para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo).
Serat Darmogandul begitu menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang jawa berganti agama, dengan meninggalkan Islam. (Lihat, Anonim. Darmogandul. Cet IV. Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955)
Setelah diteliti ternyata serat Darmogandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda.
maka jelas nampak benang merah antara upaya mengunggulkan Majapahit dengan kolonialisme.
Hidayatullah.com--DISAMPING banyak berisi penghinaan melalui pemaknaan istilah Islam dengan ungkapan-ungkapan jorok, ternyata Darmagandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, ungkapan-ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen.
Di sisi lain, Darmagandul sendiri banyak memiliki cacat ilmiah. Baik itu karena ada kesalahan dalam data sejarah, kontroversi mengenai identitas penulisnya atau karena karya lain yang menjadi rujukan dalam penulisannya sendiri amat bermasalah.
Namun anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Nah, bagaimana pemaparan selengkapnya?
Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul: “Otak-Atik Gathuk” Serat Darmagandul [1]
***
Dalam Darmagandul, wali diartikan sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Walisongo telah diberi kebaikan namun kemudian membalas dengan keburukan.
“Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.”
Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui sarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.”
Demikianlah Serat Darmagandul berbicara mengenai beberapa istilah Islam dan memlesetkannya menjadi ungkapan-ungkapan jorok yang sama sekali jauh dari arti yang sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh Prof. H.M. Rasjidi dalam buku “Islam dan Kebatinan”.
Ungkapan uthak-athik gathuk yaitu usaha menghubung-hubungkan sejumlah istilah yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan permainan kata-kata agar sesuai dengan kepentingan yang menjadi misinya yang merendahkan Islam banyak dijumpai di Serat Darmagandul. Disamping berbicara mengenai syari`at, tarekat, hakikat atau ma`rifat, ia juga berbicara mengenai Al-Qur`an beserta para rasul.
Al-Qur`an sendiri “ditafsirkan” secara serampangan dengan plesetan. Misalnya, dalam penafsiran Surat Al Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapnkan sebagai berikut:
“Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.”
Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina ...artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal, jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri) kitabu la; kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi perempuan yang pakai kain; hudan; telanjang (bahasa Jawa: wuda) Lil muttaqien; sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita ... “
Utak-atik kata dari istilah-istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul:
“Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …”
Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …”
Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Serat Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan” dalam artian perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, seharusnya sukar menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran.
Ada Bible di Darmagandul
Marginalisasi ajaran Islam dilakukan penulis Darmagandul dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen.
“Panjenengan Nabi Dawud, putranira kang tuwa, Abe Salam ingkang nami, mungsuh bapa anggege keprabonira. Dawud kengser saking praja, Abe Salam kang gumanti, sawise antara warsa, Nabi Dawud sarta dasih, wangsul amukul nagri, Sang Abe Salam lumayu, angungsi wana-wana, ginawa mbandang turanggi, pan kecantol tenggaknja oyoding wreksa. Kudane mberung lumajar, Abe Salam iku kari, tenggaknya ketjantol lata, gumatung wreksa ngemasi, iku kukume Widi, yen wong mungsuh bapa ratu…”
Itulah sepenggal kisah dari Serat Darmagandul yang mengisahkan tentang perebutan kekuasaan antara Nabi Dawud dan Absalom, puteranya. Demikian terjemahnya lengkapnya, “Putra Nabi dawud yang tua bernama Absalom, melawan ayahnya untuk merebut tahta. Dawud terusir dari istana dan Absalom menggantikannya sebagai raja. Setelah beberapa tahun Dawud kemudian menyerang Absalom dan berhasil merebut negerinya. Absalom melarikan diri dengan mengendarai kuda. Kudanya terus berlari kencang meskipun kepala Absalom menyangkut di dahan pohon, itulah hukum Tuhan, jika anak bermusuhan dengan ayahnya yang seorang raja…”
Kisah kedurhakaan putra Dawud di atas tarnyata hanya dapat dijumpai dari kitab II Samuel pasal 15 hingga 18. Kisah lain adalah cerita Darmagandul bahwa Nabi Dawud menghendaki (berzina) dengan Batsyeba, istri bawahannya yang bernama Uria. Dawud kemudian membuat muslihat agar Uria maju ke barisan terdepan medan pertempuran. Harapannya, Uria akan terbunuh dalam peperangan dan Batsyeba dapat diperistri oleh Dawud. Sumber cerita ini dapat ditelusur berasal dari II Samuel pasal 11 dan 12.
Penyisipan isi Bible ke dalam Darmagandul disamping menggunakan ungkapan yang amat gamblang seperti kasus di atas, terkadang juga menggunakan simbol-simbol. Sebagai contoh, adalah penggunaan ungkapan wit kawruh (pohon pengetahuan), wit kuldi (pohon Kuldi), dan wit budi (pohon budi). Wit kawruh digunakan sebagai simbol untuk mendeskripsikan Agama Nashrani, wit kuldi merupakan simbolisasi Agama Islam, dan wit Budi merepresentasikan “agama asli Jawa” yang oleh Darmagandul disebutkan sebagai Agama Budha. Hal ini dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut:
“Lamun seneng neda woh wit budi, mituruta babon, Buda-Budi karan agamane, anyebuta Dewa Batara Di, Lamun seneng bukti, woh wit kajeng kawruh, Anyebuta asmane Jeng Nabi Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane, lamun seneng neda woh wit kuldi, njebuta Jeng Nabi Muhammad Rasulun.”
Artinya, “Jika suka memakan buah Pohon Budi, maka ikutilah induk, Agama Buda-Budi, Sebutlah nama Dewa Batara Di. Jika suka bukti, makanlah buah Pohon Pengetahuan, Sebutlah nama Nabi Isa yang termuat, turutilah Agamanya. Jika suka memakan buah Pohon Kuldi maka sebutlah nama Nabi Muhammad.”
Dari kutipan di atas telah cukup dimengerti bahwa istilah-istilah tersebut mewakili sebuah makna secara khusus. Ide penggunaan simbolisasi agama dengan meminjam nama “jenis pohon” dapat dilacak sumbernya sebagai berikut:
“Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok mung kitab Arab lan kitabe wong Srani.”
Artinya, “Darmagandul berbicara, minta diterangkan bab cerita Nabi Adam dan Hawa yang dihukum oleh Pangeran, sebab telah memakan buah pohon pengetahuan yang ditanam di tengah taman firdaus. Ada lagi yang menerangkan bahwa yang dimakan Nabi Adam dan Hawa itu buah Kuldi, yang ditanam di Surga. Maka minta diterangkan, jika dalam kitab Jawa diceritakan bagaimana, yang menyebutkan mengapa hanya kitab Arab dan kitab Agama Nashrani.”
Ternyata, ide penggunaan istilah “wit kawruh” rupanya diperoleh pengarang Darmagandul dari kitab Suci Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 2:16-17 sebagai berikut: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Jika demikian faktanya, pengarang Serat Darmagandul bisa dipastikan merupakan penganut Kristen yang telah bersentuhan dengan sejumlah cerita Perjanjian Lama. Ide-ide dari kitab tersebut lantas diolah sehingga menghasilkan jalinan cerita dalam Serat Darmagandul. Tidak mengherankan jika kitab berbahasa Jawa berbau pornografi ini kental dengan kisah yang bersumber dari Perjanjian Lama.
Kedekatan Serat Darmagandul dengan Kekristenan ini diakui oleh sejumlah penulis dan akademisi. G. W. J. Drewes, orientalis Belanda, dalam tulisannya “The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Dermagandul” di Jurnal BKI mengungkapkan bahwa buku ini menghadirkan term-term yang menunjukkan adanya pembahasan tentang ajaran Kristen di dalamnya. Philip Van Akkeren, orientalis Belanda lainnya, bahkan berspekulasi bahwa Darmagandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda. Teori ini memang mampu menjelaskan keberadaan anasir Kristen dalam Serat Darmagandul. Namun ketidakjelasan argumentasi Van Akkeren dan ketidaksesuaian dengan sejumlah fakta, justru menguatkan bahwa teori ini lemah dan dapat dibantah.
Belakangan, teori Van Akkeren ini nampaknya mendapat dukungan. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam bukunya “ Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”, senada dengan Van Akkeren menganggap bahwa Tunggul Wulung dimungkinkan merupakan pengarang serat tersebut.
Kristenisasi
Pengarang Serat Darmagandul sejak awal beritikad menampilkan bahwa agama Nashrani lebih unggul dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik, dimana Islam senantiasa ditampilkan dalam image negatif. Ajaran Kristen sendiri ditempatkan secara positif dalam gambaran sebagai berikut:
“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora nganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, ...”
Artinya,”… Yang disebut agama Nashrani adalah sarana berbakti, benar-benar berbakti kepada Tuhan tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, maka sebutannya Gusti Kanjeng Nabi Isa itu Putra Allah, sebab Allah yang mewujudkan.”
Selain itu Serat Darmagandul juga mencoba mengetengahkan upaya marginalisasi ajaran Islam dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen. Simak ungkapan berikut:
”Kitab ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu.”
Artinya, “Kitab Arab pada jaman ini sudah tidak terpakai sebab hukumnya meresahkan dan tidak adil. Yang digunakan untuk memutuskan perkara adalah kitab Nabi Isa Rahullah.”
Adapun puncak dari seluruh motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut :
“…eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.”
Artinya, “Ingat-ingatlah besok, jika ada agama pengetahuan, maka akan kubalas, akan kuajari pengetahuan yang benar dan salah, peraturan tata negara, memakan babi seperti jaman Majapahit.”
Puncaknya, Serat Darmagandul ingin mengatakan bahwa Islam akan kalah oleh agama kawruh, dalam hal ini sebangun dengan pohon pengetahuan yang maksudnya adalah Kristen. Serat Darmagandul seolah-olah sedang memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh Kristen yang dianggap akan mengajar benar dan salah serta menghalalkan babi. Maka telah jelas bahwa penulisan Darmagandul sejak awal dimaksudkan guna kepentingan misi penginjilan, bukan kitab bagi kalangan kebatinan. */Susiyanto, SAHID
(A. SETUJU B. TIDAK SETUJU). —
Penjajah berkepentingan untuk mengubur Islam sebagai akar budaya nasional dan menggantinya dengan Hindu (atau selain Islam). Sehingga dilakukan berbagai usaha seperti penyimpangan sejarah dan mengangkat budaya dan tradisi hinduisme sebagai akar budaya nasional, misalnya membongkar kembali borobudur dan prambanan yg sudah hancur dan terkubur dll.
Kepentingan kolonialisme sebagaimana kita mafhum adalah penyebaran ajaran Kiristen (Gospel) serta motivasi balas dendam atas kekalahan Kristen dalam perang Sabil (salib). Sehingga apapun yang berbau Islam dimusnahkan.
Demikian pula, Majapahit dan hinduisme diangkat terus serta dipaksakan dalam penulisan sejarah sebagai cikal bakal dan nenek moyang bangsa. Padahal tidak demikian.
Oleh karena itu, cobalah tanyakan kepada anak2 kita sekarang, apakah meraka mengenal Raden Fatah, Raja Muslim pertama di Tanah Jawa. Raden Patah adalah putra Raja Majapahit, sekaligus santri dari Sunan Ampel. Tanyakan kepada para Siswa di Sekolah2 Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi Sultan Agung yang mengirimkan tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta untuk mengusir penjajah Portugis?
Tapi, kita dan anak2 kita dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa kerajaan Hindu itulah yang berhasil yang berhasil menyatukan Nusantara. Sehingga opini yang disampaikan kepada anak2 kita tampaknya: "Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah berhasil dibangun oleh Majapahit!"
Sebab, setelah itu - sebagaimana digambarkan dalam buku pelajaran sejarah - muncul kerajaan2 Islam yg tdk pernah berhasil menjelma menjadi kerajaan nasional, sebagaimana Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yg tdk kondusif sebagai "pemersatu Indonesia". Dengan kata lain, Indonesia hanya bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah ateisme, animisme, atau sekularisme. Pada akhirnya sampai saat ini msh byk yg phobi kepada syariat Islam.
Padahal, coba diperiksa dan pertanyakan; kapan Majapahit benar2 berhasil menyatukan Nusantara, wilayahnya sampai mana, dengan cara apa Majapahit menyautkan Nusantara? katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil mewujudkan sumpahnya?
Prof. C.C. Berg, termasuk yg mengkritik upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran majapahit. (Maret 1952)
Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam kitab Darmogandul (kitab yang isinya penuh penghinaan terhadap Islam, Nabi Muhammad dan Al-Qur'an) yang juga meratapi keruntuhan Majpahit dan mencerca para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo).
Serat Darmogandul begitu menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang jawa berganti agama, dengan meninggalkan Islam. (Lihat, Anonim. Darmogandul. Cet IV. Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955)
Setelah diteliti ternyata serat Darmogandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda.
maka jelas nampak benang merah antara upaya mengunggulkan Majapahit dengan kolonialisme.
Hidayatullah.com--DISAMPING banyak berisi penghinaan melalui pemaknaan istilah Islam dengan ungkapan-ungkapan jorok, ternyata Darmagandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, ungkapan-ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen.
Di sisi lain, Darmagandul sendiri banyak memiliki cacat ilmiah. Baik itu karena ada kesalahan dalam data sejarah, kontroversi mengenai identitas penulisnya atau karena karya lain yang menjadi rujukan dalam penulisannya sendiri amat bermasalah.
Namun anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Nah, bagaimana pemaparan selengkapnya?
Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul: “Otak-Atik Gathuk” Serat Darmagandul [1]
***
Dalam Darmagandul, wali diartikan sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Walisongo telah diberi kebaikan namun kemudian membalas dengan keburukan.
“Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.”
Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui sarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.”
Demikianlah Serat Darmagandul berbicara mengenai beberapa istilah Islam dan memlesetkannya menjadi ungkapan-ungkapan jorok yang sama sekali jauh dari arti yang sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh Prof. H.M. Rasjidi dalam buku “Islam dan Kebatinan”.
Ungkapan uthak-athik gathuk yaitu usaha menghubung-hubungkan sejumlah istilah yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan permainan kata-kata agar sesuai dengan kepentingan yang menjadi misinya yang merendahkan Islam banyak dijumpai di Serat Darmagandul. Disamping berbicara mengenai syari`at, tarekat, hakikat atau ma`rifat, ia juga berbicara mengenai Al-Qur`an beserta para rasul.
Al-Qur`an sendiri “ditafsirkan” secara serampangan dengan plesetan. Misalnya, dalam penafsiran Surat Al Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapnkan sebagai berikut:
“Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.”
Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina ...artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal, jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri) kitabu la; kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi perempuan yang pakai kain; hudan; telanjang (bahasa Jawa: wuda) Lil muttaqien; sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita ... “
Utak-atik kata dari istilah-istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul:
“Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …”
Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …”
Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Serat Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan” dalam artian perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, seharusnya sukar menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran.
Ada Bible di Darmagandul
Marginalisasi ajaran Islam dilakukan penulis Darmagandul dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen.
“Panjenengan Nabi Dawud, putranira kang tuwa, Abe Salam ingkang nami, mungsuh bapa anggege keprabonira. Dawud kengser saking praja, Abe Salam kang gumanti, sawise antara warsa, Nabi Dawud sarta dasih, wangsul amukul nagri, Sang Abe Salam lumayu, angungsi wana-wana, ginawa mbandang turanggi, pan kecantol tenggaknja oyoding wreksa. Kudane mberung lumajar, Abe Salam iku kari, tenggaknya ketjantol lata, gumatung wreksa ngemasi, iku kukume Widi, yen wong mungsuh bapa ratu…”
Itulah sepenggal kisah dari Serat Darmagandul yang mengisahkan tentang perebutan kekuasaan antara Nabi Dawud dan Absalom, puteranya. Demikian terjemahnya lengkapnya, “Putra Nabi dawud yang tua bernama Absalom, melawan ayahnya untuk merebut tahta. Dawud terusir dari istana dan Absalom menggantikannya sebagai raja. Setelah beberapa tahun Dawud kemudian menyerang Absalom dan berhasil merebut negerinya. Absalom melarikan diri dengan mengendarai kuda. Kudanya terus berlari kencang meskipun kepala Absalom menyangkut di dahan pohon, itulah hukum Tuhan, jika anak bermusuhan dengan ayahnya yang seorang raja…”
Kisah kedurhakaan putra Dawud di atas tarnyata hanya dapat dijumpai dari kitab II Samuel pasal 15 hingga 18. Kisah lain adalah cerita Darmagandul bahwa Nabi Dawud menghendaki (berzina) dengan Batsyeba, istri bawahannya yang bernama Uria. Dawud kemudian membuat muslihat agar Uria maju ke barisan terdepan medan pertempuran. Harapannya, Uria akan terbunuh dalam peperangan dan Batsyeba dapat diperistri oleh Dawud. Sumber cerita ini dapat ditelusur berasal dari II Samuel pasal 11 dan 12.
Penyisipan isi Bible ke dalam Darmagandul disamping menggunakan ungkapan yang amat gamblang seperti kasus di atas, terkadang juga menggunakan simbol-simbol. Sebagai contoh, adalah penggunaan ungkapan wit kawruh (pohon pengetahuan), wit kuldi (pohon Kuldi), dan wit budi (pohon budi). Wit kawruh digunakan sebagai simbol untuk mendeskripsikan Agama Nashrani, wit kuldi merupakan simbolisasi Agama Islam, dan wit Budi merepresentasikan “agama asli Jawa” yang oleh Darmagandul disebutkan sebagai Agama Budha. Hal ini dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut:
“Lamun seneng neda woh wit budi, mituruta babon, Buda-Budi karan agamane, anyebuta Dewa Batara Di, Lamun seneng bukti, woh wit kajeng kawruh, Anyebuta asmane Jeng Nabi Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane, lamun seneng neda woh wit kuldi, njebuta Jeng Nabi Muhammad Rasulun.”
Artinya, “Jika suka memakan buah Pohon Budi, maka ikutilah induk, Agama Buda-Budi, Sebutlah nama Dewa Batara Di. Jika suka bukti, makanlah buah Pohon Pengetahuan, Sebutlah nama Nabi Isa yang termuat, turutilah Agamanya. Jika suka memakan buah Pohon Kuldi maka sebutlah nama Nabi Muhammad.”
Dari kutipan di atas telah cukup dimengerti bahwa istilah-istilah tersebut mewakili sebuah makna secara khusus. Ide penggunaan simbolisasi agama dengan meminjam nama “jenis pohon” dapat dilacak sumbernya sebagai berikut:
“Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok mung kitab Arab lan kitabe wong Srani.”
Artinya, “Darmagandul berbicara, minta diterangkan bab cerita Nabi Adam dan Hawa yang dihukum oleh Pangeran, sebab telah memakan buah pohon pengetahuan yang ditanam di tengah taman firdaus. Ada lagi yang menerangkan bahwa yang dimakan Nabi Adam dan Hawa itu buah Kuldi, yang ditanam di Surga. Maka minta diterangkan, jika dalam kitab Jawa diceritakan bagaimana, yang menyebutkan mengapa hanya kitab Arab dan kitab Agama Nashrani.”
Ternyata, ide penggunaan istilah “wit kawruh” rupanya diperoleh pengarang Darmagandul dari kitab Suci Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 2:16-17 sebagai berikut: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Jika demikian faktanya, pengarang Serat Darmagandul bisa dipastikan merupakan penganut Kristen yang telah bersentuhan dengan sejumlah cerita Perjanjian Lama. Ide-ide dari kitab tersebut lantas diolah sehingga menghasilkan jalinan cerita dalam Serat Darmagandul. Tidak mengherankan jika kitab berbahasa Jawa berbau pornografi ini kental dengan kisah yang bersumber dari Perjanjian Lama.
Kedekatan Serat Darmagandul dengan Kekristenan ini diakui oleh sejumlah penulis dan akademisi. G. W. J. Drewes, orientalis Belanda, dalam tulisannya “The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Dermagandul” di Jurnal BKI mengungkapkan bahwa buku ini menghadirkan term-term yang menunjukkan adanya pembahasan tentang ajaran Kristen di dalamnya. Philip Van Akkeren, orientalis Belanda lainnya, bahkan berspekulasi bahwa Darmagandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda. Teori ini memang mampu menjelaskan keberadaan anasir Kristen dalam Serat Darmagandul. Namun ketidakjelasan argumentasi Van Akkeren dan ketidaksesuaian dengan sejumlah fakta, justru menguatkan bahwa teori ini lemah dan dapat dibantah.
Belakangan, teori Van Akkeren ini nampaknya mendapat dukungan. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam bukunya “ Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”, senada dengan Van Akkeren menganggap bahwa Tunggul Wulung dimungkinkan merupakan pengarang serat tersebut.
Kristenisasi
Pengarang Serat Darmagandul sejak awal beritikad menampilkan bahwa agama Nashrani lebih unggul dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik, dimana Islam senantiasa ditampilkan dalam image negatif. Ajaran Kristen sendiri ditempatkan secara positif dalam gambaran sebagai berikut:
“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora nganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, ...”
Artinya,”… Yang disebut agama Nashrani adalah sarana berbakti, benar-benar berbakti kepada Tuhan tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, maka sebutannya Gusti Kanjeng Nabi Isa itu Putra Allah, sebab Allah yang mewujudkan.”
Selain itu Serat Darmagandul juga mencoba mengetengahkan upaya marginalisasi ajaran Islam dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen. Simak ungkapan berikut:
”Kitab ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu.”
Artinya, “Kitab Arab pada jaman ini sudah tidak terpakai sebab hukumnya meresahkan dan tidak adil. Yang digunakan untuk memutuskan perkara adalah kitab Nabi Isa Rahullah.”
Adapun puncak dari seluruh motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut :
“…eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.”
Artinya, “Ingat-ingatlah besok, jika ada agama pengetahuan, maka akan kubalas, akan kuajari pengetahuan yang benar dan salah, peraturan tata negara, memakan babi seperti jaman Majapahit.”
Puncaknya, Serat Darmagandul ingin mengatakan bahwa Islam akan kalah oleh agama kawruh, dalam hal ini sebangun dengan pohon pengetahuan yang maksudnya adalah Kristen. Serat Darmagandul seolah-olah sedang memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh Kristen yang dianggap akan mengajar benar dan salah serta menghalalkan babi. Maka telah jelas bahwa penulisan Darmagandul sejak awal dimaksudkan guna kepentingan misi penginjilan, bukan kitab bagi kalangan kebatinan. */Susiyanto, SAHID
Langganan:
Postingan (Atom)






